LAPORAN AKHIR NUSANTARA SEHAT PUSKESMAS KALIKE
LAPORAN AKHIR NUSANTARA SEHAT
PROGRAM PROMOSI KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS KALIKE
KABUPATEN FLORES TIMUR
TAHUN 2018
PENULIS : AMURAJI, SKM
BAB. I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Puskesmas
sebagai penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan terdepan, kehadirannya
ditengah masyarakat tidak berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat,
tetapi juga sebagai media komunikasi masyarakat. Disamping itu, keberadaan
puskesmas disuatu wilayah dimanfaatkan sebagai upaya-upaya pembaharuan
{inovasi} baik dibidang kesehatan masyarakat maupun upaya pembanguan lainnya
bagi kehidupan masyarakat sekitarnya sesuai dengan kondisi sosial budaya
masyarakat setempat, Oleh karena itu keberadaan puskesmas dapat diumpamakan
sebagai “agent perubahan” dimasyarakat sehingga masyarakat lebih berdaya dan
timbul gerakan-gerakan upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat.
Puskesmas
masih menghadapi berbagai masalah antara lain 1). Kegiatan yang dilaksanakan
puskesmas kurang berorientasi pada masalah dan kebutuhan masyarakat setempat
tetapi lebih berorientasi pada pelayanan kuratif bagi pasein yang datang ke
puskesmas; 2). Keterlibatan masyarakat yang merupakan andalan penyelanggaraan
pelayanan kesehatan tingkat pertama belum dikembangkan secara optimal, sampai
saat ini puskesmas kurang berhasil menumbuhkan inisiatif masyarakat dalam
pemecahan masalah dan rasa memiliki puskesmas serta belum mampu mendorong
kontribusi sumber daya dari masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.
{Pedoman pelaksanaan promosi kesehatan di puskesmas}.
Disadari
bahwa untuk mengatasi masalah tersebut sesuai dengan salah satu azas
penyelenggaraan puskesmas yaitu pemberdayaan masyarakat, artinya puskesmas
wajib menggerakan dan memberdayakan masyarakat agar berperan aktif dalam
penyelenggaraan setiap upaya kesehatan, terutama dalam berperilaku hidup bersih
dan sehat. Oleh karena itu upaya promosi kesehatan puskesmas membantu agar
mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat [PHBS].
Promosi
kesehatan puskesmas adalah upaya puskesmas untuk melaksanakan pemberdayaan
kepada masyarakat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan setiap
individu, keluarga serta lingkungannya secara mandiri dan mengembangkan upaya
kesehatan bersumber masyarakat.
B.
Tujuan
Promosi
kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan
masyarakat yang:
1. Memiliki perilaku sehat yang
meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat;
2. Mampu menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu;
3. Hidup dalam lingkungan yang
sehat;
4. Memiliki derajat kesehatan
yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
C.
Strategi Promosi Kesehatan
Strategi
dasar utama promosi kesehatan adalah: 1) pemberdayaan, 2) Bina suasana, 3)
Advokasi serta dijiwai semangat, 4) Kemitraan. Berdasarkan strategi promosi
kesehatan puskesmas juga dapat mengacu dan dapat di kembangkan sesuai sasaran,
kondisi puskesmas dan tujuan promosi kesehatan tersebut.
BAB II.
LAPORAN
KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN DI PUSKESMAS KALIKE
Setiap masalah kesehatan pada umumnya
disebabkan tiga faktor yang timbul bersamaan, yaitu 1). Adanya bibit penyakit
atau pengganggu lainnya, 2) adanya lingkungan yang memungkinkan berkembangnnya
bibit penyakit, dan 3) adanya perilaku manusia yang tidak peduli terhadap bibit
penyakit dan lingkungannya. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di puskesmas
kalike selama 2 tahun dapat kami laporkan sebagai berikut :
A.
Jenis-jenis kegiatan
1.
Advokasi
a.
Penyuluhan
Advokasi
merupakan upaya atau proses yang terencana untuk mendapatkan komitmen dan
dukungan dari pihak-pihak yang terkait agar masyarakat di lingkungan puskesmas
berdaya untuk mencegah serta meningkatkan kesehatannya serta menciptakan
lingkungan sehat.
Tempat
Penyuluhan kesehatan di puskesmas kalike dilakukan
Ø Tempat-tempat umum
Ø Sekolah
Ø Kegiatan UKBM {posyandu,
posbindu, dan desa siaga}
Ø Tempat ibadah
Ø Corong desa.
Materi
penyuluhan kesehatan disesuaikan dengan kalender promosi kesehatan dari dinas
kesehatan akan tetapi bisa berubah pada waktu dan kondisi tertentu sesuai
dengan kebutuhan dan masalah wilayah setempat.
Metode
yang digunakan pada saat penyuluhan yaitu :
Ø Tatap muka langsung dengan
sasaran
Ø Penyampaian melalui corong
desa.
Material yang di persiapkan pada saat
kegiatan:
Ø Materi penyuluhan [ sesuai
dengan kalender promosi kesehatan dan kebutuhan masyarakat]
Ø Poster
Ø SAP [ Satuan Acara Penyuluhan
]
Ø LCD
Ø Lifleat
Ø Laptop
Sasaran kegiatan:
Ø Individu
Ø Keluarga
Ø Kelompok masyarakat
Ø Masyarakat umum
b.
Promosi pekan keselamatan ibu
dan anak
Pemerintah Kabupaten Flores Timur / Dinas Kesehatan telah
melakukan upaya terobosan sebagai salah satu bentuk kepedulian, pengawasan dan
pengendalian dengan melakukan suatu gerakan moral dan teknis yang melibatkan
semua komponen masyarakat dan sektor terkait untuk peduli kepada ibu
hamil dan bayi baru lahir yang di kenal dengan Pekan Keselamatan Ibu dan Anak (PKIA). Sebagai keberlanjutan dari program ini juga
telah dilaksanakan suatu gerakan moral lainnya yaitu dengan pemantauan
terhadap ibu hamil yang mau melahirkan melalui sistim yang disebut 2H2
Konsep
2H2 adalah gerakan moral dan teknis yang mengajak semua pihak terkait serta
melibatkan peran serta masyarakat untuk peduli ibu hamil dengan menggalang
perhatian secara khusus terutama pada masa-masa kritis 2 hari sebelum
melahirkan dan 2 hari sesudah melahirkan untuk mencapai tujuan bersama yaitu “
Ibu selamat Bayi sehat “.
Puskesmas
kalike melalui uluran tangan sendiri terus berinovasi untuk mendukung program 2H2
center dengan melakukan kegiatan pawai keliling, pemasangan bendera dirumah ibu
hamil, pemasangan stiker P4K, pemeriksaan malaria bagi ibu hamil dan kunjungan
kerumah ibu hamil 2 hari sebelum persalinan. Kegiatan pekan keselamatan ibu dan
anak di laksanakan 1 kali setiap tahun dengan melibatkan semua sektor terkait
{pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pihak kepolisian, TNI, para kader dan
seluruh ibu hamil}.
2.
Pemberdayaan Masyarakat
a.
Pembinaan Pengurus Desa Siaga
Desa
siaga adalah sala satu UKBM yang ada disetiap desa dimana prinsip Desa siaga
yaitu dari, oleh dan untuk masyarakat. Tujuan dibentuknya desa siaga :
1. Meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan
2. Meningkatkan kemampuan dan
kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan
3. Meningkatkan kewaspadaan dan
kesiapsiagaan masyarakat terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan
4. Meningkatnya kesehatan
lingkungan didesa
Puskemas kalike memiliki 7 wilayah
binaan dimana setiap desa memiliki desa siaga tersendiri. Setiap desa memiliki
7 orang kader desa siaga yang sudah terlatih. Kategori ke tujuh desa siaga
masih dalam pentahapan purnama. Setiap tiga bulan puskesmas kalike melakukan
pembinaan kkader desa siaga setiap desa dengan mengadakan pertemuan bersama
dengan semua. Dimana dalam pertemuan kegiatan tersebut sala satu agendanya ada
dengan memberikan materi dan pemahaman laporan dalam rangka penguatan kembali
dan mendongkrak untuk bisa dalam pentahapan desa siaga.
b.
Refresing Kader Posyandu dan
pembinaan posyandu
Posyandu
adalah salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang sudah menjadi
milik masyarakat serta menyatu dalam kehidupan dan budaya masyarakat. Meskipun
dalam satu dasa warsa terakhir ini terjadi perubahan tatanan kepemerintahan di
Indonesia, tetapi Posyandu masih tetap ada di tengah-tengah masyarakat kita.
Peran
kader sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama
kepada sasaran posyandu untuk memberikan pemahaman tentang cara pemberian
makanan kepada bayi dan anak.
Puskesmas
kalike memiliki 13 UKBM posyandu bayi balita dimana setiap desa memiliki 2 unit
posyandu terkecuali 1 desa yang hanya memiliki 1 unit posyandu karna dilihat
dari wilayah dan sasarannya. Setiap
posyandu memiliki 5 kader posyandu bayi balita sehingga seluruhnya berjumlah 65
orang dan 13
psoyandu tersebut masih dalam pentahapan kategori purnama.
Refresing
kader diselenggarakan atas kerjasama lintas program dalam puskesmas. Refresing
kader dilaksanakan hanya 1 kali setiap tahun, yang dimana kegiatan ini sebagai
narasumber terdiri dari Dinas kesehatan Kabupaten, petugas kesehatan juga
pemerintah kecamatan.
Metode kegiatannya yaitu dengan memberikan materi
sesuai dengan kebutuhan dan atau program baru yang dilanjutkan dengan pelatihan
kepada semua kader. Disamping kegiatan refresing yang dilakukan setiap 1 tahun
tersebut juga dilakukan pembinaan kepada kader posyandu setiap bulan yang
bersamaan dengan kegiatan penimbangan bayi balita.
c.
Pembinaan Sekolah Sehat
Program
usaha kesehatan sekolah yang dikenal dengan trias UKS yaitu pendidikan,
kesehatan, pelayanan kesehatan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat
merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan peserta didik yang sehat dan
cerdas.
Pembinaan
dan pengembangan usaha kesehatan sekolah adalah upaya pendidikan dan kesehatan
dilaksanakan secara terpadu, terarah dan bertanggung jawab dalam menanamkan,
menumbuhkan dan melaksanakan prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari.
Pembinaan
sekolah sehat diwilayah puskesmas kalike di lakukan secara rutin melalui
kegiatan penjaringan anak sekolah, pemeriksaan berkala setiap 6
bulan, dan pelatihan dokcil disetiap sekolah.
3.
Pemberdayaan
Keluarga
a.
Pembinaan
keluarga melalui pelebelan rumah PHBS
PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar
atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan
masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan edukasi
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku sehingga membantu masyarakat
mengenali dan mengatasi masalah sendiri dalam tatanan rumah tangga, agarr dapat
menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara, dan
meningkatkan kesehatan.
Kegiatan pelabelan rumah sehat dilakukan setiap
rumah tangga dimana dilihat dari penilaian 10 indikator PHBS. Stiker PHBS
terdiri dari tiga warna dimana : 1) stiker warna merah untuk rumah tangga yang
tidak ber PHBS, 2) stiker warna hijau untuk rumah tangga yang ber PHBS.
Puskesmas kalike memiliki 7 desa wilayah binaan
yang terdiri dari 1241 rumah tangga. Rumah tangga yang sudah ber-PHBS terdiri
dari 893 [stiker warna hijau] dan 348 yang belum berPHBS [ stiker merah].
B.
Waktu dan Tempat.
Pelaksanaan
kegiatan disesuaikan dengan POA tahunan maupun bulanan Puskesmas
C.
Sumber Dana
Anggaran
kegiatan program promosi kesehatan sepenuhnya di bebankan kepada dana alokasi
khusus { DAK ] Non Fisik Bantuan
Operasional Kesehatan [BOK] untuk puskesmas kalike [terlampir]
D.
Capaian Program
Capaian
program promosi kesehatan dilampirkan dalam laporan ini.
E.
Faktor penunjang/pendukung
Dalam
pelaksanaan promosi kesehatan harus di perkuat dengan metode dan media yang
tepat serta tersedianya sumber daya yang memadai :
1. Metode dan Media
Metode
yang dimaksud disini adalah metode kominikasi. Pada prinsipnya baik pemberdayaan
maupun advokasi adalah proses komunikasi. Oleh sebab itu, perlu ditentukan
metode yang tepat dalam proses tersebut. Pemilihan metode harus dilakukan
dengan memperhatikan kemasan informasinya, keadaan penerima informasi [termasuk
sosial budayanya] dan hal-hal seperti ruang dan waktu. Pemilihan metode yang di
gunakan yaitu sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Media
atau sarana informasi juga disesuaikan dengan metode yang akan di sampaikan
dengan memperhatikan sasaran atau penerima informasi. Media yang di gunakan
pada saat penyuluhan di puskesmas kalike, selain leaflet atau poster yang dari
dinas, puskesmas kalike juga membuat leaflet tersendiri dengan melihat
keefektifan dari isi poster dan leaflet terutama tulisan dan kebutuhan serta
kesesuaian dengan metode. Disamping itu selain media poster atau lefleat yang
digunakan pada saat kegiatan juga dilengkapi dengan LCD dan laptop bahkan
lembar balik untuk memudahkan pemberian infomasi.
2. Sumber daya
Sumber
daya utama yang diperlukan untuk penyelenggaraan promosi kesehatan puskesmas
adalah tenaga [sumber daya manusia/SDM], sarana/peralatan termasuk media
komunikasi dan dana atau anggaran. Tenaga promosi kesehatan di Puskesmas Kalike
bukan hanya dilakukan oleh pengelola promosi kesehatan akan tetapi di lakukan
oleh staf atau tenaga kesehatan [ dokter, perawat, bidan, gizi, sanitarian dan
lain-lain] yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan infomasi
atau konseling.
Sarana
dan Prasarana penunjang di puskesmas :
Ø Sound system
Ø LCD
Ø Flipcharts
Ø Kamera foto
Ø Poster
Ø Leaflet
Ø Lapto
F.
Faktor penghambat
Hambatan-hambatan
yang terjadi ini berasal dari dalam dalam luar puskesmas. Hambatan dari dalam
dapat dilihat dari ketersedian sumber daya manusia terutama tenaga promosi
kesehatan di puskesmas yang masih minim.
Hambatan
dari luar dapat dilihat dari kekuatan yang berpengaruh secara langsung maupun
secara tidak langsung seperti kondisi wilayah, ekonomi, sosialn budaya dan
pendidikan yang masih minim. Masih belum optimalnya pemberdayaan masyarakat
yang dilihat masih adanya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat [UKBM] yang
berkunjung kerumah karena keterbatasan dan belum tersedianya dana dari desa.
BAB. III
PENUTUP
1.
Simpulan
Kiranya
dapat dingatkan kembali bahwa promosi kesehatan untuk peningkatan PHBS di
puskesmas bukanlan tugas petugas PKM saja, namun tanggung jawab kita bersama
terutama seluruh petugas kesehatan. Banyak sekali peluang untuk melaksanakan
promosi kesehatan puskesmas yaitu didalam gedung dan diluar gedung puskesmas
atau masyarakat. Peluang-peluang tersebut harus kita manfaatkan dengan baik
sehingga upaya wajib puskesmas yaitu promosi kesehatan dapat terlaksana dengan
baik.
Upaya
pemberdayaan akan lebih berhasil, jika didukung oleh upaya-upaya bina suasana
dan advokasi. Bina suasana dilakukan terhadap mereka yang paling berpengaruh
terhadap pasien/individu/keluarga/masyarakat sedangkan advokasi dilakukan
terhadap mereka yang mendukung/membantu puskesmas dari segi kebijakan atau
peraturan perundang-undangan dan sumber daya dalam rangka memberdayakan
pasien/individu/keluarga/masyarakat.
2.
Saran
Adapun
saran dari laporan :
1. Puskesmas lebih berorientasi
kepada pada kebutuhan dan harapan masyarakat setempat.
2. Promosi kesehatan puskesmas
merupakan corong puskesmas dan sebagai agen perubahan dibidang kesehatan
masyarakat sehingga masyarakat lebih berdaya dan timbul gerakan-gerakan upaya
kesehatan yang bersumber daya masyarakat.
3. Petugas atau pelaksana
promosi kesehatan harus selalu aktif dalam menanggapi masalah kesehatan dan
berinovasi sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Komentar
Posting Komentar